Iwan Fuad

Kolom Direktur Eksekutif


Bambang Kusnadi

Direktur Eksekutif

Gerakan Cinta Masjid ; Optimalisasi Masjid sebagai Tempat Ibadah dan Pemberdayaan Umat

Masjid adalah tempat suci yang diagungkan, selalu dijaga dan akan tetap dipelihara selamanya. Di sinilah umat Islam beribadah, bertemu, bersilaturrahmi, bertatap muka membahas urusan keummatan.

Di zaman Rasulullah, masjid juga digunakan untuk berlatih perang dan mengatur strateginya. Tentunya bukan di dalam masjid melainkan di halamannya. Rasulullah dan para sahabat memakmurkan masjidnya tidak hanya untuk menunaikan ibadah ritual seperti sholat berjama’ah, tetapi juga befungsi sebagai tempat berkonsultasi urusan-urusan agama dan tempat bermusyawarah memecahkan persoalan-persoalan keumatan, hingga permasalahan pengairan dipecahkan di masjid. Ketimpangan-ketimpangan sosial juga dipecahkan di masjid. Seolah-olah masjid menjadi aula pertemuan publik. Sehingga satu-satunya sentral penyiaran informasi keummatan tempatnya berada di masjid.

Inilah yang menjadi concern Baitulmaal Muamalat (BMM). Maka, ia harus dikembalikan dan diberlakukan sesuai haknya. Masjid seyogyanya diperlakukan sesuai hak-haknya. Tidak hanya dimanfaatkan untuk shalat tetapi harus dipelihara dengan selayaknya rumah Allah dan harus dipedulikan.

Dalam rangka itulah BMM menggulirkan program Gerakan Cinta Masjid (GCM). Sebuah program yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan pemberdayaan ekonomi umat.

GCM adalah sebuah gerakan mengajak masyarakat untuk mengembalikan sejarah peradaban Islam. Masjid merupakan instrument penting, karena masjid merupakan tempat sujud. Dalam arti beribadah kepada Allah. Ibadah di sini dalam arti luas, yaitu semua aktifitas yang muaranya adalah penghambaan kepada-Nya.

Namun kenyataannya fakta di lapangan tidak seperti itu. Di lapangan telah terjadi krisis masjid. Hal ini terlihat dari jamaah yang kurang antusias. Minim jamaah. Krisis imam yang fasih Alquran dan memahami agama, lingkungan terasa gersang, kurang nyaman untuk iktikaf kotor dan tidak terawat.

Dalam urusan manajerial juga sama. Masih banyak terjadi krisis dalam memanage keuangan, tidak mampu pengelola program dan kurang dapat melakukan penataan infrastuktur. Oleh karena itu BMM mengambil inisiatif untuk menjadikan masjid sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat.

Semenjak BMM berdiri hingga sekarang misi memberdayakan masjid yang terintegrasi terus digelorakan, melalui berbagai bentuk program. Terutama di empat pilar, meliputi pilar pendidikan, ekonomi, kesehatan dan sosial lingkungan. Wujudnya adalah program KUM3 yang sudah mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak.

Dari program KUM3 itulah kemudian dikuatkan dengan program kelanjutannya yaitu GCM. Dalam menjadikan masjid sebagai pusat peradaban Islam, urai Iwan, melalui GCM dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Seperti misalnya, adanya mahasiswa ataupun relawan yang mau mengajar mengaji di masjid.

Selain itu juga masjid menjadi tempat menyatukan perasaan. Saat di masjid, tak ada perbedaan antara yang kaya atau pun yang miskin. Saat di masjid saling bahu membahu, saling membantu dan semuanya sederajat, yaitu sebagai hambanya Allah.

Beberapa program GCM yang digaungkan adalah mengenai ISO Syariah untuk masjid. Hal ini dikarenakan masih banyaknya management masjid yang dikelola secara tradisional. Salah satu hal yang dilakukan untuk penerapan ISO ini adalah dengan konsultasi kepada Lembaga pemberi sertifikat ISO Syariah. Selain itu, dibutuhkan manager masjid yang professional di mana manager tersebut mendapatkan gaji bulanan sehingga dapat fokus mengelola masjid.

Melalui GCM ini, masjid menjadi pusat pemberdayaan ekonomi berbasis masjid. Gerakan ini juga dapat mempererat persaudaraan dan memperkuat jamaah masjid yang kuat dan yang lemah seperti dalah hal ekonomi. Tentu saja dibutuhkan effort yang besar dari berbagai komponen. Oleh karena itu, ISO masjid menjadi aprovement.

Selain itu dalam hal lingkungan di sekitar masjid pun menganut unsur go green sehingga lingkungan masjid terlihat asri dan sejuk serta tidak mencemari lingkungan. Jamaah pun merasa betah dan nyaman berada di lingkungan masjid.

Tujuan utama dari GCM ini adalah masyarakat dapat mengenal dengan baik dan masyarakat mengerti arti persaudaraan sehingga masjid menjadi makmur karena partisipasi masyarakat dalam mengelola masjid. Selain itu, pemerintah turut serta dalam mendukung gerakan ini.

Pemerintah harusnya bisa menginisiasi gerakan sujud untuk melakukan shalat di masjid yang diterapkan di lingkungan pemerintahan, sekolah, perusahaan, dan sebagainya, untuk membuat masjid menjadi makmur. Tentu saja gerakan ini membutuhkan keterlibatan dari semua pihak.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Sebelumnya :